Bahasa Korea (Hangeul) di pakai di Suku Cia-Cia, Sulawesi Tenggara.
Wah… ternyata ada salah satu suku di Indonesia yang memakai Tulisan Hangeul (Korea).
Suku Cia-Cia
Suku Cia-Cia ini termasuk di Kota
Bau-Bau, Pulau Buton Sulawesi Tenggara. Mau tahu dimana letaknya….
dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Alasan penggunaan Alfabet Korea
ini dikarenakan kekurangan sistem penulisan yang tepat pada bahasa asli
suku tersebut. Perlu dicatat, hanya alfabet saja yang digunakan bukan
bahasanya. Bahasa tetap menggunakan Bahasa Indonesia.
Bahkan sebuah suku minoritas di
Indonesia menandatangani kesepakatan dengan Korea Selatan (Korsel) untuk
mengkampanyekan tulisan yang dirintis seorang raja Korea hampir enam
abad silam.
Suku Cia-cia tersebut beberapa
waktu lalu mengumumkan keputusan untuk mengadopsi sistem abjad unik
Korea, Hangeul, untuk menuliskan bahasa asli mereka secara resmi.
Suku Cia-cia tinggal di sekitar
Kota Bau-Bau di Sulawesi Selatan. Bahasa asli suku minoritas dengan
jumlah populasi 60 ribu itu hampir terancam punah karena tidak memiliki
huruf sendiri untuk menyampaikan bahasa mereka dengan tepat.
Pada hari Selasa, 22 Desember
ini, Walikota Seoul Oh Se-hoon dan Amirul Tamim, Walikota Bau-Bau,
menandatangani surat persetujuan untuk mengkampanyekan penyebaran
Hangeul dan pertukaran budaya. Demikian seperti diberitakan kantor
berita AFP, Selasa (22/12/2009).
Pemerintah kota Seoul akan membantu mendirikan sebuah pusat pelatihan guru-guru bahasa di Bau-Bau.
Pemerintah Korsel telah
menyediakan tenaga kerja dan dukungan material termasuk buku-buku bacaan
berbahasa Korea untuk para anggota suku Cia-cia.
Bangsa Korea bangga memiliki
alfabet Hangeul yang terdiri dari 24 karakter itu. Abjad tersebut
diperkenalkan oleh Raja Sejong the Great sekitar tahun 1443.
Berita lain yang bersangkutan :
1. Sebuah suku minoritas di Indonesia memilih Hangeul sebagai sistem huruf resmi (KBS World – 6 Agustus 2009)
Sebuah suku minoritas di
Indonesia memilih “Hangeul” sebagai sistem huruf untuk menuliskan bahasa
asli mereka secara resmi. Hal itu merupakan yang pertama kali, dimana
abjad bahasa Korea digunakan oleh masyarakat di luar negeri. Lembaga
riset Hunminjeongeum Korea hari Kamis mengatakan bahwa sebuah suku di
kota Bau-Bau di pulau Buton, Sulawesi Selatan, belakangan ini menerapkan
huruf bahasa Korea, Hangeul untuk menulis bahasa asli mereka yang
disebut ‘bahasa Cia-Cia’. Kota itu mulai mengajarkan sistem tulisan
bahasa Korea kepada sekolah dasar bulan lalu dengan menggunakan buku
pelajaran dengan tulisan bahasa Korea selama sekitar 4 jam per minggu.
Bahasa asli suku minoritas dengan jumlah populasi 60 ribu itu hampir
terancam punah karena tidak memiliki huruf sendiri untuk menyampaikan
bahasa mereka dengan tepat. Profesor Universitas Nasional Seoul Lee
Ho-young, yang membantu menciptakan buku pelajaran bahasa Korea untuk
suku minoritas di Indonesia itu, mengatakan dia berharap Hangeul akan
dapat menyumbang besar bagi suku suku yang tidak punya huruf sendiri
untuk melestarikan identitas dan budaya mereka.
2. Bahasa Cia-CIa dalam Abjad Korea (Radar Buton – tgl 28 Juli 2009)
Setelah Bahasa Wolio disusun
dalam abjat Korea, kali ini giliran Bahasa Cia-Cia. Peresmiannya
dilaksanakan bertepatan dengan ritual Mataa di Kelurahan Gonda Baru,
Kecamatan Sorawolio, belum lama ini. Launching alphabet Bahasa Cia-Cia ke Bahasa Korea, diwakili Prof Le Ho Yung.
“Orang Korea (Le Ho Yung, red),
tertarik dengan aneka bahasa di Buton, salah satunya Bahasa Cia-Cia,
yang saat ini belum mempunyai aksara,” kata Sekot Baubau, Suhufan,
kemarin. Kata dia, guru besar dari Korea itu menyatakan pulau sekecil
Buton dan Baubau, ternyata tersimpan banyak bahasa. Alhasil,
kristalisasi kerja sama tersebut kembali dipertegas dalam acara malam
ramah tamah Festival Perairan Pulau Makasar (FPPM) ke-2. Le Ho Yung
turut hadir.
Untuk menyukseskan komitmen
tersebut, pihak Pemkot berencana membangun sebuah lembaga bahasa.
Diantaranya, menjadikan Bahasa Cia-Cia sebagai satu pelajaran muatan
lokal, ditingkat SD, SMP, dan SMA, misalnya di Sorawolio.
Kali pertama, abjad Korea yang
dikenal sebagai alfabet Hangeul segera diadopsi suku bangsa asing.
Kemarin (6/8) Korea Times melaporkan bahwa suku Cia-Cia yang tinggal di
Kota Bau-Bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia, menggunakan
abjad tersebut sebagai bahasa tulis mereka.
“Mereka akan menggunakan Hangeul
untuk merekam bahasa lisan suku,” ujar Profesor Lee Ho-Young dari Seoul
National University seperti dilansir Agence France Presse. Menurut dia,
suku minoritas yang hanya berjumlah 60.000 orang itu mengajarkan bahasa
tulis dengan abjad Hangeul sejak 21 Juli lalu. Sebagai langkah awal,
bahasa formal tersebut diajarkan di sekolah-sekolah.
Untuk mempermudah pembelajaran,
suku Cia-Cia memakai buku panduan yang disusun Hunminjeongeum Research
Institute, komunitas bahasa di Seoul. “Kini, suku Cia-Cia mampu
menerjemahkan bahasa asli mereka dalam tulisan,” imbuh Lee yang ikut
menyusun buku panduan tersebut. Dia menyebut pembelajaran bahasa tulis
suku Cia-Cia itu sebagai kasus bersejarah bagi Korea.
Hingga kemarin, tercatat sudah
140 SMA yang terlibat dalam proyek pengenalan bahasa tulis Cia-Cia itu.
Dalam buku panduan yang disusun Lee dan timnya, tertulis sejarah dan
budaya suku yang sebelumnya tidak pernah punya bahasa tulis tersebut.
4. Analisis Kategori Kata Bahasa Cia Liwungau (oleh La Yani Konisi & Ahid Hidayat)
Dalam laporan penelitian ini
tidak lagi digunakan istilah Bahasa Cia-Cia, namun Bahasa Cia Liwungau
(BCL), karena yang hanya mempunyai arti adalah ‘cia’ (tidak), sedangkan
‘cia-cia’ tak bermakna. Sedangkan ‘liwungau’ berarti tempat yang pernah
hangus-terbakar. Oya, BCL ini merupakan salah satu bahasa Cia yang
tersebar di 6 kecamatan di daerah kabupaten Buton (yaitu meliputi
kecamatan Pasarwajo, Sampolawa, Batauga, Sorawolio, Lasalimu, dan
Binongko).
Keunggulan Hangeul telah diakui
masyarakat internasional. Pada tahun 1997, UNESCO menetapkan Hangeul
sebagai harta warisan catatan internasional. Universitas Oxford Inggris
sempat menempatkan Hangeul sebagai sistem penulisan paling unggul di
dunia. Huruf bahasa Korea, Hangeul, bisa dimasukkan ke komputer 7 kali
lebih cepat daripada huruf bahasa Cina atau Jepang, dan juga diakui
dalam segi keindahan disain (sumber:Globalisasi sistem abjad Korea, Hangeul’).
Kemudian dari Arirang, ada wawancara dengan petinggi lembaga riset Hunminjeongeum Korea:
1) Interview with Kim Ju-won, President The Hunminjeongeum Society
“The most important consideration
in giving Korean phonetics to other minority groups without an official
writing system is that their language must be gradually disappearing
and there must be need for preservation.”
The city started teaching Korean
letters last month to elementary and high school students four to eight
hours a week with a textbook written in Hangeul.
The textbook is composed of three
parts writing, speaking and reading and contains not only stories of
the tribe’s culture and language, but also includes a Korean folk tale.
The tribe has sent a local high school teacher to join the project of
making the textbooks with Korean researchers and he is confident that
students will be able to understand Korean consonants and vowels after
three classes.
The city of Bau Bau also plans to
build a “Korea Center” in the region and train teachers who can teach
Hangeul and Korean in order to spread Korean phonetics to other parts of
the country.
2) Interview with Lee Ki-nam, Chairman The Hunminjeongeum Society
“Although we started this project
for the Cia-Cia tribe in Indonesia we plan to extend this project to
other minority groups in Southeast Asia that do not have a set of
letters for their own language.”

